Investor
Bentuk ekonominyayang beda.
Villa dan restoran itu bisnis bagus. Yang beda bukan bagus atau enggaknya, tapi apa yang harus dibeli tiap kali mau nambah pendapatan. Halaman ini ngebuka bandingannya, lengkap sama asumsinya.
Semua angka di sini model ya, bukan hasil survei dan bukan capaian kami.
Pembukuannyayang jadi produknya.
Intinya
Aset fisik naik lewat modal.Software naik lewat distribusi.
Villa nambah cuan dengan cara beli kamar lagi. Restoran nambah cuan dengan cara buka outlet lagi. Dua-duanya butuh modal gede di depan, dan modal itu susah ditarik balik kalau ternyata salah langkah.
Software nambah cuan dengan cara nemu pelanggan berikutnya. Biayanya bisa disetop bulan depan kalau angkanya jelek. Bukan berarti lebih gampang ya, cuma bentuk risikonya yang beda.
01 · Cara mikir
Sistem pencatatan,bukan alat bantu.
Tiga hal ini kami ambil dari cara Palantir mikirin data dan cara Anduril mikirin kepemilikan produk, terus kami pasang di ukuran warung.
Yang megang catatan resminya, gak diganti
Alat bantu gampang dilepas. Tapi sistem yang nyimpen kwitansi bernomor urut, stok, utang, gaji, sama laporan pajak itu udah jadi catatan resmi usahanya. Ninggalin dia berarti ninggalin riwayat usaha sendiri.
Satu peta buat satu usaha
Produk, pelanggan, supplier, harga per pelanggan, kasbon, karyawan, dan aset gak kami simpen sebagai tabel yang kepisah-pisah, tapi sebagai satu peta yang nyambung. Pertanyaan kayak produk mana yang diam-diam bikin rugi cuma bisa dijawab kalau petanya nyambung.
Kami duduk bareng yang makai
Fitur lahir dari duduk di warung orang, liat dia salah ngetik, terus dibenerin. Bukan dari rapat. Tiap koreksi yang dia lakuin balik lagi jadi data buat ngukur model mana yang paling ngerti bahasa dia.
02 · Modal
Modal buat nambahRp100 juta per bulan.
Berapa duit yang harus keluar duluan sebelum tambahan cuan itu ada.
- Villa 4 kamar / Restoran 40 kursi
- Software langganan
+Lihat angkanya
| Usaha | Modal | Bentuknya |
|---|---|---|
| Villa 4 kamar | Rp2,5 miliar | Satu villa lagi, tanah plus bangunan |
| Restoran 40 kursi | Rp800 juta | Satu outlet lagi, sewa plus renovasi plus alat |
| Software langganan | Rp253 juta | 505 pelanggan Pro, lewat biaya akuisisi |
Yang gak kelihatan di grafik: dua batang pertama itu belanja aset yang nempel selamanya. Batang ketiga itu biaya akuisisi yang bisa disetop bulan depan, dan kalau disetop pun, pelanggan yang udah ada tetap bayar.
03 · Struktur biaya
Ke mana tiap sejutapendapatan pergi.
Empat pos yang sama buat ketiganya, biar bisa ditumpuk terus dibandingin.
- Biaya melayani
- Biaya tetap operasi
- Cari pelanggan
- Sisa buat pemilik
+Lihat angkanya
| Pos | Villa | Restoran | Software |
|---|---|---|---|
| Biaya melayani | 22% | 40% | 20% |
| Biaya tetap operasi | 28% | 40% | 40% |
| Cari pelanggan | 18% | 10% | 25% |
| Sisa buat pemilik | 32% | 10% | 15% |
Restoran keliatan paling berat karena bahan baku sama gaji ikut naik tiap ada tamu tambahan. Villa jauh lebih lega, dan bakal makin lega kalau komisi OTA-nya hilang. Itu persis yang dikerjain Dewata Tech.
04 · Batas kapasitas
Yang berhentidi tembok.
Permintaan naik dua kali lipat. Yang satu ikut naik, yang satu mentok di jumlah kamarnya.
+Lihat angkanya
| Permintaan | Aset fisik | Software |
|---|---|---|
| 0 | 0 | 0 |
| 50 | 50 | 50 |
| 100 | 100 | 100 |
| 150 | 100 | 150 |
| 200 | 100 | 200 |
Villa yang penuh gak bisa nerima tamu kelima di kamar keempat, berapa pun tamunya mau bayar. Buat lewatin garis itu harus beli villa lagi, balik ke grafik pertama. Software gak punya tembok yang itu. Temboknya ada di distribusi, dan tembok distribusi bisa didorong tanpa beli tanah.
05 · Yang jujur
Yang lebih ungguldi villa dan restoran.
Kalau bagian ini gak ditulis, tiga bagian sebelumnya gak pantes dipercaya.
Permintaannya udah ada dari hari pertama
Villa di Bali gak perlu ngeyakinin orang bahwa nginep itu perlu. Software harus ngeyakinin orang bahwa nyatet itu perlu, dan itu pekerjaan yang jauh lebih berat.
Asetnya nahan nilai
Tanah dan bangunan masih ada nilainya walau usahanya gagal. Software yang gagal nilainya nol, kecuali datanya kepakai.
Kasnya masuk dari bulan pertama
Villa buka, tamu bayar. Software langganan butuh waktu sebelum jumlah pelanggannya nutup biaya tetap.
Lebih gampang dijaminkan ke bank
Bank ngerti kalau jaminannya properti. Bank belum tentu ngerti duit langganan yang masuk tiap bulan.
Asumsi
Angkanya dari mana.
Ini model buat gambaran, bukan survei. Ganti asumsinya, angkanya ikut berubah.
Villa 4 kamar di Bali
- Tarif rata-rata Rp1.500.000 per malam, okupansi 60 persen
- Pendapatan bulanan sekitar Rp108 juta
- Komisi OTA rata-rata 18 persen dari kamar yang dipesan lewat OTA
- Modal satu villa baru Rp2,5 miliar termasuk tanah
Restoran 40 kursi
- Dua kali putaran meja per hari, keterisian 60 persen
- Rata-rata belanja per tamu Rp85.000
- Bahan baku 33 persen, tenaga kerja 25 persen, sewa 12 persen
- Modal satu outlet baru Rp800 juta termasuk sewa di depan dan alat
Software langganan
- Harga publik Paket Pro Rp198.000 per bulan, Paket Tim Rp600.000 per bulan
- Pendapatan campuran per pelanggan Rp250.000 per bulan setelah bauran paket dan diskon tahunan
- Biaya akuisisi per pelanggan Rp500.000
- Biaya melayani satu pelanggan tambahan sekitar 20 persen dari harganya
Yang gak ada di halaman ini: biaya AI per pesan, lantai margin, dan jumlah pelanggan berbayar hari ini. Itu angka internal, dan kami bawa pas ketemu langsung.
Catatan hukum
- Halaman ini informasi tentang perusahaan, bukan penawaran investasi dan bukan ajakan membeli efek.
- Kami gak melakukan penawaran umum efek. Penawaran umum di Indonesia diatur undang undang pasar modal dan diawasi OJK, dan kami gak terdaftar untuk itu.
- Angka di halaman ini proyeksi berbasis asumsi yang ditulis terbuka, bukan janji hasil.
Mau angka yang beneran, bukan model?
Traksi terukur, biaya akuisisi, sama retensi kami buka langsung pas ngobrol.